Tuesday, November 27, 2007

Cantik VS Ganteng

“ Akhwat ALIEF Militan, Perkasa dan Mandiri?

Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. bisa dilihat langsung fenomena itu di departemen Alief heem akhwat kebingungan mencari patnernya karena selalu sulit diajak koordinasi ...How can it’s happen???

Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Entah hilang kemanakah para ikhwan....Ikhwan Alief lebih semangat dong...bahkan akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, ane pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan dengan ikhwan… (tidak cepat tanggap–red),” . ikhwan alief ayo dong....yang mengaku ikhwan!!! antum kemana?? jangan mau dong di bilang seperti itu......”

Begitulah penggalan email yang sempat menjadi bahan perdebatan seru di milis AF beberapa waktu lalu.. Terus terang saya ‘tersentil’ juga dengan tulisan salah seorang akhwat tersebut, terlebih sampai ada salah satu do’anya segala, wuihh sueremm juga..,

Allah SWT berfirman “ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara...” (QS.Al-Hujurat :10). Mudah-mudahan perdebatan dalam masalah tersebut tidak membuat keretakan ukhuwah di Alief. Aa’ Gym dalam tausiahnya mengatakan bahwa salah satu ciri seseorang yang ikhlas adalah “ jarang kecewa terhadap makhluk” , karena yang diharapkannya hanya keridhoan Alloh SWT. Lalu apa ciri seseorang yang banyak kecewa terhadap makhluk ? yakni dirinya banyak berharap kepada makhluk.

Ikhlas itu adalah pekerjaan hati. Kalau ada pertanyaan , bolehkah amal kita diperlihatkan kepada orang lain? Jawabannya ialah tergantung niat,kalau niatnya ingin dipuji tentu itu menjadi riya. Tetapi dilandasi niat supaya orang lain mengikuti amal kita, Insya Alloh kita akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan. Saya saat itu husnuzon saja terhadap statemen-statemen yang menjustifikasi mengarah ke hal tsb, karena selama ini permasalahan yang muncul & sering diekspos di Alief , ya… itu-itu saja.

Ust.Ja’far pernah memberikan nasihat bahwa jangan pernah kita mengaku sebagai aktifis dakwah kalau tidak paham dengan tabiat subjek dakwah. Dalam hal ini adalah faham tentang etika berinteraksi dengan sesama kader dakwah serta sikap tafahum diantara pelaku dakwah itu sendiri.

Tidaklah mudah mengaplikasikan dua hal tsb, terlebih sikap tafahum diantara saudara2x kita. Hal ini dikarenakan kita masih dalam tahap belajar, belajar untuk mengerti kondisi saudara kita, belajar untuk mengetahui berbagai hal yang melingkupinya. Sehingga ada ungkapan bijak ’cobalah kita memahami kondisi orang lain, tapi jangan minta untuk dipahami’.

Hal ini sangat penting dalam tugas dakwah ini. Bagaimana dakwah ini bisa berjalan mulus, tatkala kita sendiri di kalangan para aktifis dakwah tidak paham dengan kondisi sesama da’inya. Bagaimana memahami permasalahan umat kalo sesama aktifis dakwah masih belum tahu permasalahan saudaranya sendiri.

Sehingga ikhwati fillah apapun yang menimpa saudara kita terkait kinerjanya, tingkah lakunya, tanggung jawabnya dalam amal dakwah ini hendaknya jangan kita nilai dalam timbangan manusia. Boleh jadi sekelompok orang atau individu yang selama ini merasa paling berjasa, yang paling aktif, yang paling proaktif,semangat&kompak, de..el..el tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Naudzubillah..., semoga saja kita tdk termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu sebagai saudara seiman dan seakidah, kita semestinya memberikan 1001 alasan ketika ada hal yang kurang baik menimpa saudara kita. Mungkin dia punya pertimbangan lain ketika mengambil langkah tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah senantiasa memberikan nasihat tatkala dia lalai/lupa, mensupport dia tatkala butuh semangat dan terlebih penting jangan sampai kita memvonis seseorang dengan vonis-vonis tertentu , yang kurang G.A.N.T.E.N.G, dsb , sebelum tahu sebab pasti atau kondisi saudara kita di sana. Padahal bisa juga para ikhwan memberikan bantahan dengan menulis DICARI AKHWAT CANTIK (Cerdas, Apresiatif, No comment, Toleran/Tafahum, Ikhlas, Kreatif )’

By mang totox



1 comment:

Anonymous said...

Assalamualaikum

Yo yo yo.... akhirnya AF punya blog juga.

Wah ini sih masalah klasik. Kasususnya pun tidak hanya terjadi di Alif saja, tapi di wajihah2 yang lain.

Yup saya setuju dengan artikel di atas.
Kita nih ya .... jarang mau mengerti perasaan dan kondisi orang lain. Tapi lebih suka memahami apa yang terjadi sesuai dengan pemikiran kita. Nah kalo udah gitu yg terjadi adalah egois dan sok pintar, dan sok yang lainnya.
My brow en my sis.... dakwah itu sarana untuk mentautkan hati bukan adu argumen untuk menyatakan sapa yg benar sapa yang salah.
Bikin asik aja deh.....

BTW ada sebuah nasihat dari seorang pren ane... jangan berpikir bisa mengkondisikan sebuah kampus kalo mengkondisikan wajihah saja belum bisa. Dan jangan berpikir mengkondisikan sebuah wajihah kalo ternyata mengkondisikan diri saja tidak mampu.

Wassalam

dari AF to AF ( Alfan Fauzi to Alif Foundation)