Tuesday, November 27, 2007

MENDAKI GUNUNG ARUNGI LEMBAH

Kalau membaca judul ini, yang dulu hobinya nonton Tivi pasti tidak asing dengan seorang tokoh kartun bernama ninja Hatori (bener nggak? tolong diralat ya klo salah). Tapi saya tidak akan membahas panjang lebar tentang ninja yang super aktif dan dinamis ini, melainkan sedikit mencuri lagunya. Ini berawal dari sebuah pengalaman yang tak kan terlupakan, karena cukup menggelikan, tapi sangat mengasyikkan, penasaran kan ?

Alkisah, suatu hari di tanggal 8 April 2007, kami serombongan (kalau gak salah ± 11 orang + sopirnya) berangkat ke walimahan akhwat yang terletak di sebuah kabupaten, kota Blitar. Acara aqadnya adalah pukul 07.00, tapi kami berangkat naik mobil kijang dari rumah salah seorang akhwat di kota yang sama pada pukul 7.30. Sekitar beberapa kilometer sebelum memasuki wilayah yang dituju, kami sedikit dikejutkan dengan medan yang sebelumnya tidak kami duga, jangankan kami yang baru beberapa kali menginjakkan kaki di kota kelahiran bung karno itu, akhwat yang rumahnya kami tumpangi untuk menginappun tak menyangka bahwa di salah satu sudut kota/kabupatennya memiliki wilayah dengan medan yang demikian menantang, yang lebih ‘surprise’ lagi ternyata ada juga ya akhwat tangguh yang tinggal di wilayah tersebut, perjalanan yang kami kira hanya memakan waktu tidak begitu lama, ternyata salah total. Subahanallah... berarti ‘si akhwat’ yang baru saja menggenapkan setengah din-nya itu sudah berapa kali dan berapa lama ya melewatinya?

Tak dinyana, selang beberapa langkah setelah melaju dari jembatan, tanpa tanda peringatan tikungan yang super menanjak, mobil yang kami tumpangi berhenti di tengah-tengah tanjakan dan sempat mundur beberapa meter ke belakang (ya jelas mundur pasti ke belakang), beberapa tampak panik, tapi yang lain ada yang menikmati, lho???. Akhirnya kami putuskan untuk turun dari mobil, agar mobil bisa naik dan kami? Ya, kami berjalan kaki menuju ke puncak. Wah, menyenangkan bukan? ke walimahan apa rihlah?☺Eh...lagi enak-enak mendaki sambil sedikit terengah-engah, ada mobil rombongan dari jombang (daerah asal si mempelai ikhwan) lewat, dan salah seorang penumpang didalamnya menawarkan untuk menggantikan posisi kami (syukron atas tawarannya, tapi kelihatannya lebih seru yang begini!). Alhamdulillah...akhirnya sampai ke puncak juga, kami menaiki kembali ‘kijang’ yang sudah sampai di atas dan ternyata tidak jauh dari sana terlihat sudah ‘tenda biru’ tanpa janur kuningnya menyambut kedatangan kami. Bener-bener baru kali ini ke walimahan sambil adventure...

Perjalanan pulang dari walimahan, kami mengungkit kembali peristiwa yang membuat “kontestan pendaki gunung” terlelap semua selepas acara, setelah dirunut, salah satu sebab yang mungkin atas “insiden” tersebut adalah kalah start, dan tidak ada rambu petunjuk yang mengingatkan. Ya, memang sejak awal kita tak ada yang tahu medannya, termasuk “nahkoda” dalam perjalanan itu alias bapaknya si akhwat yang setia mengantarkan kita (Maturnuwun nggih pak...).

Subhanallah...Pelajaran dari sebuah perjalanan, ya itulah yang kami rasakan. Ternyata betapa penting dan berharganya sebuah pengenalan medan atau bahasa kerennya ma’rifatul medan. Sebelum berperang, seharusnya kita sedikit tahu tentang keadaan medan yang akan diserang, termasuk kondisi musuh yang ada didalamnya, hal ini sangat penting karena tidak menutup kemungkinan kita akan kalah sebelum bertanding, tidak hebat saja dalam hal teknis tapi aspek strategis (konsep) dilupakan, kedua hal itu tidak bisa dipisahkan, saling melengkapi (simbiosis mutualisme). Pun, saat kita berada di medan da’wah kampus, terutama kampus-kampus ‘jajahan’ ALIEF, mengenal medan adalah salah satu syarat yang harus terpenuhi. Misalnya, kita mau ke kampus UNIDHA tanpa kendaraan pribadi, kita sudah siap harus disana jam berapa, mau apa dan ketemu siapa, tapi petunjuk jalan untuk menuju kesana hanya dekat kampus STIBA (hayo, siapa yang belum pernah ke UNIDHA?), dengan uang pas-pasan kita berangkat, tak taunya ada beberapa angkot yang harus dinaiki dan dengan rute perjalanan yang sedikit melelahkan, untung uangnya benar-benar pas-pasan, pas nyempe pas habis (kasian deh!), tapi karena kita tidak memiliki strategi dengan mengetahui medan yang akan kita lewati, yang terjadi adalah gondok hati, karena sesampai disana bukannya disambut dengan minuman segar, beberapa cemilan dan senyuman, tapi malah ditanya satpam, mau ngapain, karena kampus sudah bubaran dan hampir ditutup. (sekali lagi, kasian deh!). Afwan, perumpamaan ini hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan tempat, orang dan peristiwa, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Ada contoh yang sedikit lebih parah daripada di atas, kita tahu selama ini ada beberapa kampus yang sedikit ‘eksklusif’ untuk dimasuki. Kita ambil contoh saja kampus ABM, karena hanya bermodalkan konsep kegiatan yang bagus, tanpa pengetahuan sedikitpun tentang latar belakang kampus, kita ingin mengadakan Short Training Administrasi Islam, kontan saja baru masuk proses penawaran sudah di “skak mat” dengan pertanyaan mengapa harus administrasi ? Bukan ekonomi yang notabene menjadi basic pendidikan kampus tersebut. Sekali lagi itu hanya perumpaman yang fiktif tentang betapa pentingnya mengenal medan, yang sesungguhnya belum pernah terjadi dan mudah-mudahan tidak akan terjadi.

Petualangan kami belum berakhir, sesampai di kota Blitar, kami langsung diantar ke Stasiun, sempat berjam-jam kami menunggu kereta penataran yang amat sangat molor, kondisinya mirip sekali dengan pengungsian. Wah, sepertinya angan-angan untuk istirahat di kereta makin sirna, karena penumpang yang bejubel begitu kereta datang, seharusnya kita ma’rifah ya kalau tabiat kereta ekonomi ya memang begitu, harap dimaklumi. Hampir ¾ perjalanan kita lalui dengan berdiri. Oya, ada yang terpisah dengan rombongan, beliau ada di gerbong sebelah, yang seru, ternyata di gerbong sebelah ada insiden yang mengejutkan, ada sekelompok orang yang tengah melancarkan “modus operandi”pencurian, dan diakhir perjalanan baru diketahui ternyata ada salah seorang akhwat menjadi korbannya (alhamdulillah...kabarnya sudah ada gantinya nih, Allah memang Maha Luas Rizkinya), setelah ditanya, si akhwat sendiri heran, Kok bisa ya??secepat dan semudah itu. Nah, pelajaran yang kedua, selain mengenal medan, kita harus berusaha sekeras mungkin, sekuat tenaga mengerahkan pikiran dan jiwa kita, sambil berdoa, karena keputusan sepenuhnya ada di tangan yang Maha Kuasa. (Bukannya cepat berprasangka lho, tapi waspada)

Ikhwahfillah... pasti antum semua pernah merasakan betapa untuk “meraih hati” kampus binaan kita penuh dengan suka dan duka, ada yang menatap penuh kecurigaan, ada yang dimatai-matai setiap kita bertandang, untung belum sampai dikata-katai, tapi ada juga yang setelah sekian lama sering kesana kemudian tidak tampak batang hidungnya, malah ditunggu-tunggu kehadirannya, lengkap dengan logistik yang sedikit wah. Nah itulah perjuangan yang tidak mengenal kata akhir tapi selalu ada awal, dan salah satu hal yang berharga dalam mengarungi perjalanan ini adalah mengenal medan, agar kita bisa mempersiapkan ‘perbekalan’ termasuk amunisi-amunisi yang harus digunakan, pokoknya ikhtiar abiis! n jangan lupa berdoa, agar tidak kehabisan bekal selama di perjalanan dan yang penting TIDAK KALAH SEBELUM BERTANDING ! Selamat “Mendaki Gunung Arungi Lembah”! perjuangan masih panjang! (asy_syahadah@eramuslim.com)

No comments: