Kamis, 15 Maret 2007, saat itu perjalanan saya menuju ke Semarang, tepat pukul 13.57, HP saya berbunyi, tanda sms masuk, Assalamu’alaikum...afwan ukhti ni dari keputrian LDI ITN, InsyaAllah keputrian LDI ITN mau ngadain SIK (Studi Islam Kemuslimahan) tgl 23-25 maret, kami meminta bantuan ukhti mungkin bs ngisi beberapa materi nantinya. InsyaAllah undanganx menyusul...jazakillah khoir, demikianlah isi sms itu, persis seperti yang dituliskan pengirimnya. Ingatan saya langsung melayang pada satu kegiatan yang mengingatkan saya pada ukhti “si pengirim sms”, ceritanya, hari itu, Jumat (2 maret 2007), akhwat Alief Foundation mendapat bagian jadi panitia Jalasa Ruhiyah kampus se-Malang, sebenarnya ide awalnya di musholla ITN, itupun muncul dari akwhat di luar alief, ada info dari akh Reddy DPD, klo musholla ITN mudah dipinjam, lho kok bukan dari Alief’ers? Singkat cerita...pas silaturrahim ke rumah bu nurul (ADKP ITN), malah dapat peluang tempat yang lebih ‘wah’ yakni di aula ITN. Walhasil, jadilah acaranya bukan jadi Jalasa Ruhiyah tapi lebih pantas kalau disebut Seminar KemuslimahanJ, disitulah bu Nurul mendatangkan beberapa akhwat ITN untuk membantu kelangsungan acara tersebut, di akhir acara kami berbincang-bincang singkat dan saling bertukar personal contact, sebelum akhirnya berpamitan.
Itulah sedikit kenangan yang mengingatkan saya bahwa waktu berputar demikian cepat, rasanya baru beberapa waktu yang lalu saya berkumpul dengan teman-teman, menikmati Esem, rihlah di kebun teh Wonosari, sebagai Event Organizer Jalasa Ruhiyah, kuliah di kampus peradaban (wah, saya dah ijin 2 kali nih pak kepala madrasah, dipecat saja pak wali kelas akhwatnya!), anjangsana ke beberapa kampus, berpusing ria di syuro-syuro PPDP yang gak kelar-kelar (Alhamdulillah...kabarnya sekarang sudah disosialisasikan? ditunggu kiprah antuna untuk relisasinya, ALLAHUAKBAR!), cari pinjaman sana-sini untuk nglunasi hutang, mendirikan counter dan...ah, masih banyak lagi kenangan-kenangan bersama dalam suka maupun duka. Subhanallah...indahnya kebersamaan.
Wah, sekarang saya baru benar-benar tau bagaimana rasanya ‘kesendirian’, jadi pingin menikmati masa-masa bersama lagi, tapi, itulah dinamisasi kehidupan, kita selalu dituntut untuk punya banyak perencanaan, kita harus kreatif untuk ‘menikmati’ keadaan, bagaimana agar selalu menjadi yang terdepan dalam kebaikan, sebagaimana dalam syarah ushul isyrin dikatakan, ada tiga kelompok manusia: ada yang selalu terdepan dalam kebaikan, ada yang sedang (pertengahan), ada pula yang mendzalimi diri sendiri, tinggal dimana kita memposisikan diri.
Selang beberapa menit, saat membuat tulisan ini, ponsel saya berbunyi, ada sms masuk, “Bg orang2 besar itu, kesendirian bahkan bisa menjadi lebih bermakna dari kebersamaan...” wah, nyambung banget sms-nya, bener juga sih, tapi masalahnya bagi orang kecil gimana?J (syukron ukh...taujihnya, afwan ga ada pulsa)
Ikhwahfillah...ternyata kuncinya ada pada diri kita sendiri, bagaimana menyikapi keadaan yang tengah kita hadapi, yang pasti selama kita tetap komitmen dalam kebaikan dan tarbiyah ini, maka takkan ada kata berhenti, amanah akan terus berputar dan berganti. Tugas kita kini adalah terus memperbaiki dan mempersiapkan diri untuk menyongsong amanah-amanah yang menanti.
SELAMAT MENIKMATI ‘PERJALANAN’ INI...semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik lagi dan di akhirat kelak kita dikumpulkan dalam barisan yang rapi, pengusung agama ini dengan kemuliaan....sebagaimana para nabi. (asy_syahadah@eramuslim.com)
No comments:
Post a Comment