Tuesday, November 27, 2007

Sepasang mata yang berkaca-kaca

Sore itu, seperti minggu-minggu sebelumnya, saya menapakkan langkah masuk universitas itu, yang konon menjadi salah satu universitas swasta yang punya nama di salah satu kota sebelah timur pulau jawa. Seorang akhowat dengan lambaian jilbabnya menyambut kedatangan saya.

Saling menjabat tangan dan menepuk bahu, seperti telah begitu lama waktu memisahkan kami.

“Afwan, mbak. Temen-temen yang lain masih pada pulang kampung.”

“Jadi cuma sendiri nih? Ya udah deh, ga papa. Kita mulai aja yah.”

Dan sore yang sedikit mendung itu menjadi saksi (ciiee..) hening yang tercipta antara kami. Saya dan seorang akhowat peserta setia majelisku.

Entah, sore itu dimulai darimana hingga akhowat itu membuka sedikit catatan perjalanan hidupnya dikota ini.

“Yah mbak, temen-temen sekelas itu sulit sekali diingetin. Diajak solat misalnya. Sampa akhirnya aku harus menebalkan mukaku dan membiarkan telingaku memerah karena mereka kadang mengembalikan kata-kataku.”

Jadi teringat masa-masa beberapa tahun lalu yang juga seperti itu. Hanya saja teman-temanku lebih “sopan”, setidaknya mereka tidak pernah memotong dan mengembalikan kalimatku.

Majelispun diteruskan. Diskusi berkembang tentang pemuda kahfi, hingga ke teknologi aplikasi yang kudapatkan infonya dari seorang rekan kuliahku. Suatu temuan manusia, yang sekarang dimanfaatkan untuk menyimpan organ ataw jaringan makhluk hidup dalam waktu puluhan tahun. Teknik ini memanfaatkan nitrogen cair yang bersuhu minus 100 derajat celsius lebih untuk menghentikan metabolisme sel, ataw kira-kira sama deh dengan para pemuda kahfi.

Hingga kesimpulan kami sore itu. Bahwa Allah telah memberikan begitu banyak fenomena alam yang seharusnya menjadi inspirasi kita menjadi umat terbaik, dimana satu dan yang lainnya saling menguatkan.

Hingga closing stateman itu disambung oleh akhowat peserta majelisku yang sudah bertambah menjadi dua orang.

“Iya mbak, terkadang temen-temen itu masih belum bisa menerima bahwa apapun yang saya lakukan itu sebenarnya salah satu wujud perasaan sayang saya kepada mereka. Walaupun kadang mereka mengeluarkan kalimat yang sedikit ga enak tapi saya tetap yakin bahwa mereka juga saudara saya yang wajib untuk saya ingatkan terus. Karena saya tahu, surga itu terlalu luas untuk saya huni sendiri.”

Kalimat itu keluar dari lisan seorang muda dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Karena dengan sadar, ia menyayangi saudara-saudaranya itu dengan cinta Allah yang maha luas. Langit seolah ikut mengamini, dengan menurunkan butiran-butiran beningnya satu-satu.

Buat teman-teman yang tengah tersesat dihutan futur, segera buka peta ukhuwahnya. Temukan segera tempat untuk mengisi bahan bakarmu, untuk melanjutkan perjalanan yang teramat panjang. Selagi masih bisa, gandeng pula temen-temen yang nanti bisa menjadi teman kita di surga, insyaAllah, karena surga itu terlalu luas untuk kita huni sendiri.

(Mellany)

No comments: